Jumat, 26 November 2010

TEKNIK-TEKNIK DALAM SEROLOGI GOLONGAN DARAH
Teknik berikut digunakan. Ini mempercayakan identifikasi visual atau secara mikroskopis aglutinasi sel darah merah.
1. Aglutinasi larutan garam, ini penting dalam mendeteksi antibodi dingin (terutama IgM) pada suhu kamar dan 40C. Antibodi sering diterangkan sebagai larutan garam, atau aglutinin tidak lengkap.
2. Pembuatan koloid. Abumin, polifinilpirorrd on.
3. Pemberian enzim sel darah merah, misalnya papain, bromelin, ficin.
4. Saling berkekuatan ion rendah ( LISS = low ionic strength saline ).
Penggunaan kolid, enzim atau LISS mengubah media suspensi sel darah merah maupun permukaan sel darah merah, dan memungkinkan sel bergumpal lebih dekat. Ini mempermudah aglutinasi oleh banyak antibodi IgG ( atau IgA ), yang tak dapat menghasilkan aglutinasi dalam suspensi sel darah merah dalam air garam.
Pada kasus rhesus D, standar antibodi internasiaonal telah disediakan dan mungkin menghitung jumlah antibodi yang terdapat dalam serum. Ini mempunyai nilai klinis dalam penatalaksanaan wanita hamil pada kasus hemolitik bayi baru lahir.
5. Tes Combs
Ini merupakan tes fundamental dan digunakan luas pada serologi golongan darah maupun
Imunologi umum. AHG ( Anti Human Globulin ) dapat dihasilkan pada berbagai hewan ( misalnya kelinci dan kuda ) setelah penyuntikan globulin manusia atau komplemen yang dimurnikan atau imunoglobulin spesifik ( misalnya IgG, IgA, IgM ). Bila AHG hewan yng dimurnikan ditambahkan ke sel darah manusia yang terbungkus dengan imono globulin atau komponen – komponen, aglutinasi sel darah merah menunjukan tes positif.

TES COOMBS LANGSUNG

Ini digunakan untuk mendeteksi antibodi atau komplemen pada permukaan sel darah merah, dimana sensitisasi telah terjadi invivo. Reagen AHG ditambahkan ke sel darah merah yang telah dicuci dan aglutinasi menunjukan tes positif.
Tes Coombs Langsung positif ditemukan pada :
a. Penyakit Haemolitik bayi baru lahir,
b. Anemia Haemolitik Oto imun,
c. Anemia Haemolitik karena obat,
d. Reaksi tranfusi haemoliti.
TES COOMBS TIDAK LANGSUNG
Ini dipakai untuk mendeteksi antibodi golongan darah dalam serum. Ini merupakan prosedur dua tahap; langkah pertama menyangkut inkubasi sel darah merah tes dengan serum; pada langkah kedua, sel darah merah dicuci bersih dengan air garam untuk mengeluarkan globulin bebas. Reagen AHG kemudian ditambahkan ke sel darah merah yang telah dicuci. Aglutinasi dalam tes berarti bahwa serum asli mengandung antibodi yang telah membungkus sel darah merah in vitro. Tes Coombs tidak langsung digunakan:
a. Sebagai bagian prosedur pemeriksaan silang ( cross-matchcing ) rutin untuk mendeteksi antibodi pada pasien terhadap sel darah merah donor,
b. Untuk mendeteksi antibodi golongan darah atipik dalam serum selama prosedur penyaring ( secreening ).
c. Untuk mendeteksi antibodi golongan darah pada wanita hamil.
d. Untuk mendeteksi antibodi dalam serum dan anemia Haemolitik otoimun.

KESPESIFIKAN AHG
Reagen berspektrum luas biasanya lebih disukai pada prosedur tranfusi darah normal karena ini mendeteksi antibodi maupun komponen komplemen. Reagen AHG monospesifik termasuk anti-IgG, anti-IgM, anti-IgA, anti-C3, dan anti-C4. Ini dipakai pada pemeriksaan terinci sifat antibodi golongan darah khususnya pada anemia haemolitik.
Tes pemeriksaan silang ( cross-matching ) sebelum transfusi
Sebelum transfusi darah, golongan darah pasien ditentukan. Serum diperiksa untuk antibodi atipik, dan sel darah merah dari setiap unit donor di tes dengan serum pasien. Darah golongan ABO dan rhesus D yang sama diseleksi. Pemeriksaan silang biasanya memerlukan sekitar satu jam. Bila darah dibutuhkan mendesak, tes dapat dilakukan cepat dengan membatasi tes yang dilakukan dan modifikasi teknik. Ini memang mengurangi kepekaan tes tetapi akan mendeteksi semua ketidakcocokan utama ( gross incompatibilities ). Tranfusi darah yang tak diperiksa silang pada keadaan darurat membawa risiko besar dan harus dihindari bila mungkin. Bila situasi klinis sangat mendesak tidak mempunyai waktu untuk penggolongan pasien, darah golongan O rhesus negatif yang harus di transfusikan.


KEPUSTAKAAN
British Medical Bulletin (1978) The HLA System, vol. 34.
Clinics in Haematology (1976) vol. 5.1, Blood Transfusion and Blood Products.
Ed. J.D. Cash. W.B. Saunders, Philadelphia.
Dausset J. & Svejgaard (1977) HLA and Disease. Munksgaard, Copenhagen.
Festenstein H. & Demant P. (1978) HLA and H-2. Basic Immunogenetics, Bio-
Logy and clinical Relevance. Edward Arnold, London.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar